kehidupan politik kerajaan sunda
MengenalKerajaan Sunda lebih dalam. Setelah berkilas balik tentang berdirinya kerajaan di tanah Sunda, mari kita mengintip bagaimana kehidupan dalam berbagai aspek di Kerajaan Sunda. 1. Kehidupan politik dan militer. Pemerintahan era lampau tidak lepas dari kata kerajaan.
F Kehidupan Politik Kehidupan politik kerajaan Sunda hampir sama dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Tahta kerajaan akan diturunkan kepada anak laki-laki dari keluarga kerajaan. Pernikahan antar keluarga kerajaan untuk memperluas wilayah kekuasaan dan memperkuat kerajaan.
Kehidupandi Kerajaan Galuh Kehidupan Politik kerajaan Galuh. Kehidupan politik di kerajaan ini tidak lepas dari berbagai perpecahan dan penyatuan kerajaan, yakni antara kerajaan sunda dan juga galuh. Setelah disatukan oleh Sanjaya, kerajaan tersebut pecah kembali di tahun 739 M menjadi kerajaan Galuh dan Sunda, dipecah untuk anak Panaraban.
Kehidupanpolitik yang ada pada kerajaan ini tidak bisa lepas dari berbagai perpecahan dan juga penyatuan dari kerajaan, dua kerajaan tersebut adalah kerajaan Sunda dan juga Galuh. Setelah penyatuan yang telah dilakukan oleh Sanjaya, kerajaan ini pecah kembali tepatnya pada tahun 739 M, pada tahun tersebut kerajaan Galuh dan Sunda di pecah
1906/2022. Kerajaan Sunda - Seperti yang diketahui bersama, salah satu kerajaan yang bercorak Hindu-Buddha di Indonesia yang berlokasi di Jawa Barat adalah Kerajaan Sunda. Nah, pada artikel kali ini kita akan mengulas Kerajaan Sunda, mulai dari sejarah berdirinya, masa kejayaan 4 orang raja, kemunduran kerajaan, hingga apa saja peninggalan
Site De Rencontre Pour Les Amoureux Des Animaux. Sejarah Kerajaan Sunda / Pasundan, Peninggalan, Wilayah, Raja, Masa Kejayaan dan Runtuhnya adalah kerajaan yang pernah ada antara tahun 932 dan 1579 Masehi di bagian Barat pulau Jawa Kerajaan Sunda merupakan kerajaan yang terletak di bagian Barat pulau Jawa provinsi Banten, Jakarta, dan Jawa Barat sekarang, antara tahun 932 dan 1579 Masehi. Berdasarkan sumber sejarah berupa prasasti dan naskah-naskah berbahasa Sunda Kuno KERAJAAN SUNDA dikatakan bahwa pusat kerajaan Sunda telah mengalami beberapa perpindahan. Kerajaan Sunda 669–1579 M, menurut naskah Wangsakerta merupakan kerajaan yang berdiri menggantikan kerajaan Tarumanagara. Kerajaan Sunda didirikan oleh Tarusbawa pada tahun 591 Caka Sunda 669 M. Menurut sumber sejarah primer yang berasal dari abad ke-16, kerajaan ini merupakan suatu kerajaan yang meliputi wilayah yang sekarang menjadi Provinsi Banten, Jakarta, Provinsi Jawa Barat , dan bagian barat Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik yang menceriterakan perjalanan Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16, yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali “Sungai Pamali”, sekarang disebut sebagai Kali Brebes dan Ci Serayu yang saat ini disebut Kali Serayu di Provinsi Jawa Tengah. Tome Pires 1513 dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental 1513 – 1515, menyebutkan batas wilayah Kerajaan Sunda di sebelah timur sebagai berikut “Sementara orang menegaskan bahwa kerajaan Sunda meliputi setengah pulau Jawa. Sebagian orang lainnya berkata bahwa Kerajaan Sunda mencakup sepertiga Pulau Jawa ditambah seperdelapannya lagi. Katanya, keliling Pulau Sunda tiga ratus legoa. Ujungnya adalah Ci Manuk.” Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Makalah Kerajaan Malaka Sejarah Dan Peninggalan Serta Pendirinya Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda Sebelum berdiri sebagai kerajaan yang mandiri, Sunda merupakan bawahan Tarumanagara. Raja Tarumanagara yang terakhir, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi memerintah hanya selama tiga tahun, 666–669 M, menikah dengan Déwi Ganggasari dari Indraprahasta. Dari Ganggasari, beliau memiliki dua anak, yang keduanya perempuan. Déwi Manasih, putri sulungnya, menikah dengan Tarusbawa dari Sunda, sedangkan yang kedua, Sobakancana, menikah dengan Dapuntahyang Sri Janayasa, yang selanjutnya mendirikan kerajaan Sriwijaya. Setelah Linggawarman meninggal, kekuasaan Tarumanagara turun kepada menantunya, Tarusbawa. Hal ini menyebabkan penguasa Galuh, Wretikandayun 612–702 memberontak, melepaskan diri dari Tarumanagara, serta mendirikan Kerajaan Galuh yang mandiri. Tarusbawa juga menginginkan melanjutkan kerajaan Tarumanagara, dan selanjutnya memindahkan kekuasaannya ke Sunda, di hulu sungai Cipakancilan dimana di daerah tersebut sungai Ciliwung dan sungai Cisadane berdekatan dan berjajar, dekat Bogor saat ini. Sedangkan Tarumanagara diubah menjadi bawahannya. Beliau dinobatkan sebagai raja Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka kira-kira 18 Mei 669 M. Sunda dan Galuh ini berbatasan, dengan batas kerajaanya yaitu sungai Citarum Sunda di sebelah barat, Galuh di sebelah timur. Menurut Kitab Carita Parahyangan, Ibukota kerajaan Sunda mula-mula di Galuh, kemudian menurut Prasasti Sanghyang Tapak yang ditemukan di tepi sungai Cicatih, Cibadak Sukabumi, Isi dari prasasti itu tentang pembuatan daerah terlarang di sungai itu yang ditandai dengan batu besar di bagian hulu dan hilirnya. Oleh Raja Sri Jayabhupati, penguasa kerajaan Sunda. Di daerah larangan itu orang tidak boleh menangkap ikan dan hewan yang hidup di sungai itu. Tujuannya mungkin untuk menjaga kelestarian lingkungan agar ikan dan lain-lainnya tidak punah siapa yang berani melanggar larangan itu, ia akan dikutuk oleh dewa-dewa. Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Asal Mula Kerajaan Pajajaran Sunda Sejarah menyebutkan bahwa awal berdirinya Kerajaan Pajajaran ini adalah pada tahun 923 dan pendirinya adalah Sri Jayabhupati. Bukti-bukti ini didapat dari Prasasti Sanghyang berumur 1030 Masehi yang ada di Suka Bumi. Lebih lanjut, rupanya Kerajaan Pajajaran ini didirikan setelah perpecahan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Rahyang Wastu. Saat Rahyang Wastu meninggal maka Kerajaan Galuh terpecah menjadi dua. Satu dipimpin oleh Dewa Niskala dan yang satunya lagi dipimpin oleh Susuktunggal. Meskipun terpecah menjadi dua namun mereka memiliki derajat kedudukan yang sama. Asal muasal Kerajaan Pajajaran dimulai dari runtuhnya Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1400 masehi. Saat itu Majapahit semakin lemah apalagi ditandai dengan keruntuhan masa pemerintahan Prabu Kertabumi atau Brawijaya ke lima, sehingga ada beberapa anggota kerajaan serta rakyat mereka yang mengungsi ke ibu kota Galuh di Kawali, wilayah Kuningan, di mana masuk provinsi Jawa Barat. Wilayah ini merupakan daerah kekusaaan dari Raja Dewa Niskala. Raja Dewa Niskala pun menyambut para pengungsi dengan baik, bahkan kerabat dari Prabu Kertabumi yaitu Raden Baribin dijodohkan dengan salah seorang putrinya. Tidak sampai di situ, Raja Dewa Niskala juga mengambil istri dari salah seorang pengungsi anggota kerajaan. Sayangnya, pernikahan antara Raja Dewa Niskala dengan anggota Kerajaan Majapahit tidak disetujui oleh Raja Susuktunggal karena ada peraturan bahwa pernikahan antara keturunan Sunda-Galuh dengan keturunan Kerajaan Majapahit tidak diperbolehkan. Peraturan ini ada sejak peristiwa Bubat. Karena ketidaksetujuan dari pihak Raja Susuktunggal terjadilah peperangan antara Susuktunggal dengan Raja Dewa Niskala. Agar perang tidak terus menerus berlanjut maka Dewan Penasehat ke dua kerajaan menyarankan jalan perdamaian. Jalan perdamaian tersebut ditempuh dengan menunjuk penguasa baru sedangkan Raja Dewa Niskala dan Raja Susuktunggal harus turun tahta. Kemudian ditunjuklah Jayadewata atau dikenal juga dengan sebutan Prabu Siliwangi yang merupakan putra dari Dewa Niskala sekaligus menantu dari Raja Susuktunggal. Jayadewata yang telah menjadi penguasa bergelar Sri Baduga Maharaja memutuskan untuk menyatukan kembali ke dua kerajaan. Dari persatuan ke dua kerajaan tersebut maka lahirlah Kerajaan Pajajaran pada tahun 1482. Oleh sebab itu, lahirnya Kerajaan Pajajaran ini dihitung saat Sri Baduga Maharaha berkuasa. Sumber Sejarah Dari catatan-catatan sejarah yang ada, baik dari prasasti, naskah kuno, maupun catatan bangsa asing, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini; antara lain mengenai wilayah kerajaan dan ibukota Pakuan Pajajaran. Mengenai raja-raja Kerajaan Sunda yang memerintah dari ibukota Pakuan Pajajaran, terdapat perbedaan urutan antara naskah-naskah Babad Pajajaran, Carita Parahiangan, dan Carita Waruga Guru. Selain naskah-naskah babad, Kerajaan Pajajaran juga meninggalkan sejumlah jejak peninggalan dari masa lalu, seperti Prasasti Batu Tulis, Bogor Prasasti Sanghyang Tapak, Sukabumi Prasasti Kawali, Ciamis Prasasti Rakyan Juru Pangambat Prasasti Horren Prasasti Astanagede Tugu Perjanjian Portugis padrao, Kampung Tugu, Jakarta Taman perburuan, yang sekarang menjadi Kebun Raya Bogor Kitab cerita Kidung Sundayana dan Cerita Parahyangan Berita asing dari Tome Pires 1513 dan Pigafetta 1522 Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Banten Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Politik, Sosial, Ekonomi Dan Budaya Kehidupan Politik Kerajaan Sunda Menurut Tome Pires, kerajaan Sunda diperintah oleh Seorang raja. Raja tersebut berkuasa atas raja-raja di daerah yang dipimpinnya. Tahta kerajaan diberikan secara turun temurun kepada anaknya. Akan tetapi, apabila raja tidak memiliki anak maka yang menggantikannya adalah salah seorang raja daerah berdasarkan hasil pemilihannya. Akibat sumber-sumber sejarah yang sangat terbatas, aspek kehidupan politik tentang Kerajaan Sunda/Pajajaran hanya sedikit saja yang diketahui. Aspek kehidupan politik yang diketahui terbatas pada perpindahan pusat pemerintahan dan pergantian takhta raja. Secara berurutan pusat-pusat kerajaan itu adalah Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, dan Pakwan Pajajaran. Kerajaan Galuh Sejarah di Jawa Barat setelah Tarumanegara tidak banyak diketahui. Kegelapan itu sedikit tersingkap oleh Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir, Jawa Tengah berangka tahun 732 M. Prasasti Canggal dibuat oleh Sanjaya sebagai tanda kebesaran dan kemenangannya. Prasasti Canggal menyebutkan bahwa Sanjaya adalah anak Sanaha, saudara perempuan Raja Sanna. Dalam kitab Carita Parahyangan juga disebutkan nama Sanjaya. Menurut versi kitab Carita Parahyangan, Sanjaya adalah anak Raja Sena yang berkuasa di Kerajaan Galuh. Pusat Kerajaan Prahajyan Sunda Nama Sunda muncul lagi pada Prasasti Sahyang Tapak yang ditemukan di Pancalikan dan Bantarmuncang daerah Cibadak, Sukabumi. Prasasti itu berangka tahun 952 Saka 1030 M, berbahasa Jawa Kuno dengan huruf Kawi. Nama tokoh yang disebut adalah Maharaja Sri Jayabhupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabhuwanaman-daleswaranindita Haro Gowardhana Wikramottunggadewa, sedangkan daerah kekuasaannya disebut Prahajyan Sunda. Pusat Kerajaan Kawali Pada zaman pemerintahan siapa pusat Kerajaan Sunda mulai berada di Kawali tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi, menurut prasasti di Astanagede Kawali, diketahui bahwa setidak-tidaknya pada masa pemerintahan Rahyang Niskala Wastu Kancana pusat kerajaan sudah berada di situ. Istananya bernama Surawisesa. Raja telah membuat selokan di sekeliling keraton dan mendirikan perkampungan untuk rakyatnya. Pusat Kerajaan Pakwan Pajajaran Setelah Raja Rahyang Ningrat Kancana jatuh, takhtanya digantikan oleh putranya, Sang Ratu Jayadewata. Pada Prasasti Kebantenan, Jayadewata disebut sebagai yang kini menjadi Susuhunan di Pakwan Pajajaran. Pada Prasasti Batutulis Sang Jayadewata disebut dengan nama Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Sejak pemerintahan Sri Baduga Maharaja, pusat kerajaan beralih dari Kawali ke Pakwan Pajajaran yang dalam kitab Carita Parahyangan disebut Sri Bima Unta Rayana Madura Suradipati. Menurut kitab Carita Parahyangan, raja menjalankan pemerintahan berdasarkan kitab hukum yang berlaku sehingga terciptalah keadaan aman dan tenteram, tidak terjadi kerusuhan atau perang. Daftar Raja Pajajaran Sri Baduga Maharaja 1482 – 1521, bertahta di Pakuan Bogor sekarang Surawisesa 1521 – 1535, bertahta di Pakuan Ratu Dewata 1535 – 1543, bertahta di Pakuan Ratu Sakti 1543 – 1551, bertahta di Pakuan Ratu Nilakendra 1551-1567, meninggalkan Pakuan karena serangan Hasanudin dan anaknya, Maulana Yusuf Raga Mulya 1567 – 1579, dikenal sebagai Prabu Surya Kencana, memerintah dari PandeglangMaharaja Jayabhupati Haji-Ri-Sunda Rahyang Niskala Wastu Kencana Rahyang Dewa Niskala Rahyang Ningrat Kencana Sri Baduga MahaRaja Hyang Wuni Sora Ratu Samian Prabu Surawisesa dan Prabu Ratu Dewata. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Sejarah Kerajaan Aceh Raja Pendiri, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Kehidupan Politik Kehidupan Sosial Kerajaan Sunda Berdasarkan kitab Sanghyang Siksakandang Karesian, kehidupan sosial masyarakat Kerajaan Sunda dapat dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain sebagai berikut. Kelompok Rohani dan Cendekiawan Kelompok rohani dan cendekiawan adalah kelompok masyarakat yang mempunyai kemampuan di bidang tertentu. Misalnya, brahmana yang mengetahui berbagai macam mantra, pratanda yang mengetahui berbagai macam tingkat dan kehidupan keagamaan, dan janggan yang mengetahui berbagai macam pemujaan, memen yang mengetahui berbagai macam cerita, paraguna mengetahui berbagai macam lagu atau nyanyian, dan prepatun yang memiliki berbagai macam cerita pantun. Kelompok Aparat Pemerintah Kelompok masyarakat sebagai alat pemerintah negara, misalnya bhayangkara bertugas menjaga keamanan, prajurit tentara, hulu jurit kepala prajurit. Kelompok Ekonomi Kelompok ekonomi adalah orang-orang yang melakukan kegiatan ekonomi. Misalnya, juru lukis pelukis, pande mas perajin emas, pande dang pembuat perabot rumah tangga, pesawah petani, dan palika nelayan. Kehidupan masyarakat Kerajaan Sunda adalah peladang, sehingga sering berpindah-pindah. Oleh karena itu, Kerajaan Sunda tidak banyak meninggalkan bangunan yang permanen, seperti keraton, candi atau prasasti. Candi yang paling dikenal dari Kerajaan Sunda adalah Candi Cangkuang yang berada di Leles, Garut, Jawa Barat. Kehidupan Ekonomi Kerajaan Sunda Kerajaan Sunda adalah kerajaan yang masyarakatnya hidup dari pertanian, hasil pertaniannya menjadi pokok bagi pendapat kerajaan. Aneka hasil pertanian seperti lada, asam, beras, sayur mayur dan buah-buahan banyak dihasilkan masyarakat kerajaan Sunda, selain itu, ada juga golongan peternak Sapi, kambing, biri-biri dan babi adalah hewan yang banyak diperjualbelikan di bandar-bandar pelabuhan kerajaan Sunda. Menurut Tom Pires, kerajaan Sunda memiliki enam buah pelabuhan penting yang masing-masing di kepalai oleh seorang Syahbandar. mereka bertanggungjawab kepada raja dan bertindak atas nama raja di masing-masing pelabuhan, Banten, Pontang, Cigede, Tomgara, Kalapa dan Cimanuk adalah pelabuhan-pelabuhan yang dimiliki kerajaan Sunda. Kehidupan Budaya Kerajaan Sunda Kitab carita Parahyangan dan serta Dewabuda memberi petunjuk bahwa masyarakat kerajaan Sunda banyak mendapat pengaruh budaya Hindu dan Budha. Kedua budaya itu selanjutnya berbaur dengan unsur budaya leluhur yang telah ada sebelumnya. Kerajaan Sunda merupakan kerajaan pecahan dari kerajaan tarumanegara. Kerajaan Sunda beribu kota di Parahyangan Sunda. Sementara itu menurut prasasti Astana Gede Kawali – Ciamis ibu kota kerajaan Sunda berada di Pakwan Pajajaran. Mengenai perpindahan kerajaan ini tak diketahui alasannya. Akan tetapi, hal-hal yang bersifat ekonomi, keamanan, politik, atau bencana alam lazim menjadi alasan perpindahan pusat ibu kota suatu kerajaan. Kerajaan Sunda menguasai daerah Jawa Barat untuk waktu yang lama, diantara rajanya, yang terkenal adalah Jaya Bhupati dan Sri Baduga Maharaja. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Sejarah Kerajaan Singasari Awal Berdiri, Silsilah Raja, Masa Kejayaan Wilayah Kekuasaan dan Historiografi Berdasarkan naskah kuno primer Bujangga Manik, seorang pendeta Hindu Sunda yang mengunjungi tempat-tempat suci agama Hindu di Pulau Jawa dan Bali pada awal abad ke-16, yang saat ini disimpan pada Perpustakaan Boedlian, Oxford University, Inggris sejak tahun 1627, Batas Kerajaan Sunda di sebelah timur adalah Ci Pamali “Sungai Pamali”, sekarang disebut sebagai Kali Brebes dan Ci Serayu yang saat ini disebut Kali Serayu di Provinsi Jawa Tengah. Menurut Naskah Wangsakerta, wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga daerah yang saat ini menjadi Provinsi Lampung melalui pernikahan antara keluarga Kerajaan Sunda dan Lampung. Lampung dipisahkan dari bagian lain kerajaan Sunda oleh Selat Sunda. Prasasti Kawali di Kabuyutan Astana Gedé, Kawali, Ciamis. Sapeninggal Prabu Bunisora, kekuasaan kembali lagi ke putra Linggabuana, Niskalawastukancana, yang kemudian memimpin selama 104 tahun 1371-1475. Dari isteri pertama, Nay Ratna Sarkati, ia mempunyai putera Sang Haliwungan Prabu Susuktunggal, yang diberi kekuasaan bawahan di daerah sebelah barat Citarum daerah asal Sunda. Prabu Susuktunggal yang berkuasa dari Pakuan Pajajaran, membangun pusat pemerintahan ini dengan mendirikan keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati. Pemerintahannya terbilang lama 1382-1482, sebab sudah dimulai saat ayahnya masih berkuasa di daerah timur. Dari Nay Ratna Mayangsari, istrinya yang kedua, ia mempunyai putera Ningratkancana Prabu Déwaniskala, yang meneruskan kekuasaan ayahnya di daerah Galuh 1475-1482. Susuktunggal dan Ningratkancana menyatukan ahli warisnya dengan menikahkan Jayadéwata putra Ningratkancana dengan Ambetkasih putra Susuktunggal. Tahun 1482, kekuasaan Sunda dan Galuh disatukan lagi oleh Jayadéwata, yang bergelar Sri Baduga Maharaja. Sapeninggal Jayadéwata, kekuasaan Sunda-Galuh turun ke putranya, Prabu Surawisésa 1521-1535, kemudian Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543, Prabu Sakti 1543-1551, Prabu Nilakéndra 1551-1567, serta Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579. Prabu Suryakancana ini merupakan pemimpin kerajaan Sunda-Galuh yang terakhir, sebab setelah beberapa kali diserang oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten, mengakibatkan kekuasaan Prabu Surya Kancana dan Kerajaan Pajajaran runtuh. Padrão Sunda Kalapa Padrão Sunda Kalapa 1522, sebuah pilar batu untuk memperingati perjanjian Sunda-Portugis, Museum Nasional Indonesia, Jakarta. Rujukan awal nama Sunda sebagai sebuah kerajaan tertulis dalam Prasasti Kebon Kopi II tahun 458 Saka 536 Masehi . Prasasti itu ditulis dalam aksara Kawi, namun, bahasa yang digunakan adalah bahasa Melayu Kuno. Prasasti ini terjemahannya sebagai berikut Batu peringatan ini adalah ucapan Rakryan Juru Pangambat, pada tahun 458 Saka, bahwa tatanan pemerintah dikembalikan kepada kekuasaan raja Sunda. Beberapa orang berpendapat bahwa tahun prasasti tersebut harus dibaca sebagai 854 Saka 932 Masehi karena tidak mungkin Kerajaan Sunda telah ada pada tahun 536 AD, di era Kerajaan Tarumanagara 358-669 AD . Prasasti Sanghyang Tapak Terdiri dari 40 baris yang ditulis pada 4 buah batu. Empat batu ini ditemukan di tepi sungai Cicatih di Cibadak, Sukabumi. Prasasti-prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Kawi. Tanggal prasasti ini diperkirakan 11 Oktober 1030. Menurut Pustaka Nusantara, Parwa III sarga 1, Sri Jayabupati memerintah selama 12 tahun 952-964 saka 1030 – 1042AD. Sekarang keempat prasasti tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta, dengan kode D 73 Cicatih, D 96, D 97 dan D 98. Isi prasasti menurut Pleyte Perdamaian dan kesejahteraan. Pada tahun Saka 952 1030 M, bulan Kartika pada hari 12 pada bagian terang, hari Hariang, Kaliwon, hari pertama, wuku Tambir. Hari ini adalah hari ketika raja Sunda Maharaja Sri Jayabupati Jayamanahen Wisnumurti Samarawijaya Sakalabuwanamandaleswaranindita Haro Gowardhana Wikramattunggadewa, membuat tanda pada bagian timur Sanghiyang Tapak ini. Dibuat oleh Sri Jayabupati Raja Sunda. Dan tidak ada seorang pun yang diperbolehkan untuk melanggar aturan ini. Dalam bagian sungai dilarang menangkap ikan, di daerah suci Sanghyang Tapak dekat sumber sungai. Sampai perbatasan Sanghyang Tapak ditandai oleh dua pohon besar. Jadi tulisan ini dibuat, ditegakkan dengan sumpah. Siapa pun yang melanggar aturan ini akan dihukum oleh makhluk halus, mati dengan cara mengerikan seperti otaknya disedot, darahnya diminum, usus dihancurkan, dan dada dibelah dua. Prasasti Batutulis Keterangan tentang Raja Sri Baduga dapat kita jumpai dalam prasasti Batutulis yang ditemukan di Bogor. Ia adalah putra dari Ningrat Kancana. Sri Baduga merupakan raja yang besar. Ia membuat sebuah telaga yang diberi nama Telaga Rena Mahawijaya. Ia memerintahkan membangun parit di sekeliling ibukota kerajaannya yang bernama Pakwan Pajajaran. Raja Sri Baduga memerintah berdasarkan kitab hukum yang berlaku saat itu sehingga kerajaan menjadi aman dan tenteram. Raja-Raja Kerajaan Sunda Di bawah ini deretan raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda menurut naskah Pangéran Wangsakerta waktu berkuasa dalam tahun Masehi 1. Tarusbawa menantu Linggawarman, 669 – 723 2. Harisdarma, atawa Sanjaya menantu Tarusbawa, 723 – 732 3. Tamperan Barmawijaya 732 – 739 4. Rakeyan Banga 739 – 766 5. Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766 – 783 6. Prabu Gilingwesi menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783 – 795 7. Pucukbumi Darmeswara menantu Prabu Gilingwesi, 795 – 819 8. Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon 819 – 891 9. Prabu Darmaraksa adik ipar Rakeyan Wuwus, 891 – 895 10. Windusakti Prabu Déwageng 895 – 913 11. Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi 913 – 916 12. Rakeyan Jayagiri menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916 – 942 13. Atmayadarma Hariwangsa 942 – 954 14. Limbur Kancana putera Rakeyan Kamuning Gading, 954 – 964 15. Munding Ganawirya 964 – 973 16. Rakeyan Wulung Gadung 973 – 989 17. Brajawisésa 989 – 1012 18. Déwa Sanghyang 1012 – 1019 19. Sanghyang Ageng 1019 – 1030 20. Sri Jayabupati Detya Maharaja, 1030 – 1042 21. Darmaraja Sang Mokténg Winduraja, 1042 – 1065 22. Langlangbumi Sang Mokténg Kerta, 1065 – 1155 23. Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155 – 1157 24. Darmakusuma Sang Mokténg Winduraja, 1157 – 1175 25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175 – 1297 26. Ragasuci Sang Mokténg Taman, 1297 – 1303 27. Citraganda Sang Mokténg Tanjung, 1303 – 1311 28. Prabu Linggadéwata 1311-1333 29. Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 30. Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350 31. Prabu Maharaja Linggabuanawisésa yang gugur dalam Perang Bubat, 1350-1357 32. Prabu Bunisora 1357-1371 33. Prabu Niskalawastukancana 1371-1475 34. Prabu Susuktunggal 1475-1482 35. Jayadéwata Sri Baduga Maharaja, 1482-1521 36. Prabu Surawisésa 1521-1535 37. Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543 38. Prabu Sakti 1543-1551 39. Prabu Nilakéndra 1551-1567 40. Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579 Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Sriwijaya Sumber Sejarah, Raja, Peninggalan, Masa Kejayaan Dan Keruntuhannya Peninggalan Kerajaan Sunda 1. Prasasti Cikapundung Prasasti ini ditemukan warga di sekitar sungai Cikapundung, Bandung pada 8 Oktober 2010. Batu prasasti bertuliskan huruf Sunda kuno tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-14. Selain huruf Sunda kuno, pada prasasti itu juga terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, dan wajah. Hingga kini para peneliti dari Balai Arkeologi masih meneliti batu prasasti tersebut. Batu prasasti yang ditemukan tersebut berukuran panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 55 cm. Pada prasasti itu terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan dua baris huruf Sunda kuno bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang artinya semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu. Peneliti utama Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Yondri mengungkapkan, prasasti yang ditemukan tersebut dinamakan Prasasti Cikapundung. 2. Prasasti Pasir Datar Prasasti Pasir Datar ditemukan di Perkebunan Kopi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872 . Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti yang terbuat dari batu alah ini hingga kini belum ditranskripsi sehingga belum diketahui isinya. 3. Prasasti Huludayeuh Prasasti Huludayeuh berada di tengah persawahan di kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran wilayang menjadi Kecamatan Dukupuntang – Cirebon. Penemuan Prasasti Huludayeuh telah lama diketahui oleh penduduk setempat namun di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi baru diketahui pada bulan September 1991. Prasasti ini diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada 11 September 1991 dan Harian Kompas pada 12 September 1991. Isi Prasasti Huludayeuh berisi 11 baris tulisan beraksa dan berbahasa Sunda Kuno, tetapi sayang batu prasasti ketika ditemukan sudah tidak utuh lagi karena beberapa batunya pecah sehingga aksaranya turut hilang. Begitupun permukaan batu juga telah sangat rusak dan tulisannya banyak yang turut aus sehingga sebagian besar isinya tidak dapat diketahui. Fragmen prasasti tersebut secara garis besar mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang bertalian dengan usaha-usaha memakmurkan negrinya. 4. Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis adalah sebuah prasasti berbentuk tugu batu yang ditemukan pada tahun 1918 di Jakarta.. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk “Raja Samian” maksudnya Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda. Prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis. Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat sekarang Jalan Cengkeh dan Groenestraat Jalan Kali Besar Timur I, sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Prasasti tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta 5. Prasasti Ulubelu Prasasti Ulubelu adalah salah satu dari prasasti yang diperkirakan merupakan peninggalan Kerajaan Sunda dari abad ke-15 M, yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung,Lampung pada tahun 1936. Meskipun ditemukan di daerah lampung Sumatera bagian selatan, ada sejarawan yang menganggap aksara yang digunakan dalam prasasti ini adalah aksara Sunda Kuno, sehingga prasasti ini sering dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Sunda. Anggapan sejarawan tersebut didukung oleh kenyataan bahwa wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga wilayah Lampung. Setelah Kerajaan Sunda diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten. Isi prasasti berupa mantra permintaan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru Siwa, Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh. 6. Prasasti Kebon Kopi II Prasasti Kebonkopi II atau Prasasti Pasir Muara peninggalan kerajaan Sunda-Galuh ini ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebonkopi I yang merupakan peninggalan kerajaan tarumanegara dan dinamakan demikian untuk dibedakan dari prasasti pertama. Namun sayang sekali prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an. Pakar F. D. K. Bosch, yang sempat mempelajarinya, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, menyatakan seorang “Raja Sunda menduduki kembali tahtanya” dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 932 Masehi. Prasasti Kebonkopi II ditemukan di Kampung Pasir Muara, desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada abad ke-19 ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Prasasti ini terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Prasasti Kebonkopi I Prasasti Tapak Gajah. 7. Situs Karangkamulyan Situs Karangkamulyan adalah sebuah situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini merupakan peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha. Legenda situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara. Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu. Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Batu-batu ini berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar. Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri, begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut merupakan pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan. Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan Kerajaan Demak Sejarah, Raja, Dan Peninggalan, Beserta Masa Kejayaannya Lengkap Masa Kejayaan dan Keruntuhan Sejarah Kerajaan Pajajaran saat Mengalami Masa Kejayaan Masa-masa di mana Kerajaan Pajajaran mengalami kejayaan adalah pada saat pemerintahan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaha. Bahkan sampai sekarang masa keemasan Prabu Siliwangi masih teringat di hati rakyat Jawa Barat. Sri Baduga Maharaha pada masa kejayaannya membangun sebuah telaga besar yang dia beri nama Maharena Wijaya. Selain itu, dia juga berhasil membangun sebuah jalan yang menghubungkan antara ibu kota dengan wilayah Wanagiri. Dari sana Sri Baduga Maharaha membangun banyak aspek Spiritual seperti menyarankan agar kegiatan-kegiatan agama dilakukan di tengah-tengah masyarakat. Selain itu, dia juga membangun asrama para prajurit, kaputren, tempat pagelaran, memperkuat benteng pertahanan, merencanakan dan mengatur masalah upeti, dan menyusun peraturan atau undang-undang kerajaan. Semua kegiatan dan pembangunan yang dilakukan oleh Sri Baduga Maharaha ini terukir di dalam dua buah prasasti bersejarah yaitu prasasti Batutulis dan Prasasti Kabantenan. Di sana di tulis tentang bagaimana Sri Baduga Maharaha membangun seluruh aspek kehidupan kerajaannya. Sejarah tersebut pun diceritakan dengan pantun dan kisah Babad. Sejarah Kerajaan Pajajaran saat Mengalami Masa Keruntuhan Tercatat bahwa Kerajaan Pajajaran ini runtuh pada tahun 1579. Keruntuhan Pajajaran lebih banyak disebabkan oleh penyerangan yang dilakukan oleh Kasultanan Banten. Selain itu, keruntuhan ini ditandai oleh tahta atau singgasana Raja yang disebut Palangka Sriman Sriwacana dibawa oleh pasukan Maulana Yusuf dari Kerajaan Pajajaran ke Kraton Surosowan. Pemboyongan singgasana raja ini dilakukan sebagai tradisi sekaligus sebagai tanda bahwa tidak mungkin ada raja baru lagi yang bisa dinobatkan di Kerajaan Pajajaran. Akhirnya, Maulana Yusuf lah yang berkuasa di wilayah-wilayah Kerajaan Sunda. Jika Anda menengok bekas Kraton Surosowan di Banten, maka Anda bisa melihat terdapat reruntuhan Palang Sriman Sriwacana yang telah diboyong oleh Maulana Yusuf. Reruntuhan batu tersebut di sebut oleh masyarakat Banten sebagai Watu Gilang yang berarti berseri atau mengkilap. Mungkin Dibawah Ini yang Kamu Cari
Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina Herlina Lubis saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual “Satu Jam Berbincang Ilmu Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik, Dulu dan Kini”, Sabtu 13/3. [ Jawa Barat setidaknya memiliki dua kerajaan besar yang pernah berdiri setelah zaman Tarumanagara, yaitu Galuh dan Sunda. Dua kerajaan ini memiliki akar kuat sebagai identitas sejarah dan budaya dari masyarakat Sunda. Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nina Herlina Lubis menjelaskan, berbicara mengenai kerajaan Sunda, maka tidak bisa dipisahkan dari nama kerajaan Galuh. Sebab, antara kerajaan Sunda dan Galuh pernah bersatu dengan nama kerajaan Sunda dan pusat kekuasaannya berada di wilayah Galuh. Saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual “Satu Jam Berbincang Ilmu Kerajaan Sunda dalam Konstelasi Politik, Dulu dan Kini”, Sabtu 13/3, Prof. Nina menjelaskan, penyatuan kerajaan Sunda dan Galuh terjadi pada masa Sanjaya, raja Sunda setelah Maharaja Trarusbawa. “Dalam sumber primer Prasasti Canggal disebutkan, Sanjaya merebut takhta kerajaan Galuh dari Rahyang Purbasora sekitar sebelum tahun 732 Masehi,” ungkapnya. Berbeda dengan Kerajaan di Jawa Tengah dan Timur Sejarawan Unpad ini menjelaskan, berdasarkan tinggalan sejarah, ibu kota atau pusat kekuasaan kerajaan Galuh berpindah-pindah. Bermula di daerah di dekat Banjar saat ini, lalu berpindah wilayah yang saat ini menjadi perbatasan Ciamis-Banjar, serta kembali pindah ke daerah Kawali. “Di Kawali itulah kita menemukan sumber yang bisa dipercaya tentang Galuh, yaitu 6 prasasti yang menyebutkan berbagai peristiwa tentang kerajaan Galuh,” papar Prof. Nina. Memiliki ibukota kerajaan yang berpindah menyebabkan adanya perbedaan karakteristik kerajaan Sunda dengan kerajaan di Jawa Tengah maupun Jawa Timur. Kerajaan Sunda cenderung memiliki tinggalan sejarah berupa bangunan candi yang lebih sedikit dibanding di wilayah tengah dan timur. Ini disebabkan, masyarakat Sunda pada saat ini bukan sebagai masyarakat menetap. Hal ini menyebabkan mengapa ibu kota kerajaan Galuh dan Sunda berpindah-pindah. “Karena berpindah-pindah jadi tidak punya waktu membangun candi besar. Di Jateng dan Jatim masyarakatnya petani sawah, sehingga cukup punya waktu membangun bangunan monumental,” tuturnya. Pajajaran Bukan Nama Kerajaan Kerajaan Sunda yang paling dikenal masyarakat Sunda adalah Pajajaran. Namun, Pajajaran bukanlah nama sebuah kerajaan. Sebab, nama kerajaan yang sebenarnya adalah kerajaan Sunda. Prof. Nina menjelaskan, Pajajaran adalah ibu kota atau pusat kekuasaan kerajaan Sunda selama masa Sri Baduga Maharaja, atau Prabu Siliwangi, yaitu Pakwan Pajajaran. Pakwan Pajajaran terletak di wilayah Kota Bogor, saat ini. “Ada teori yang dikemukakan Robert von Heine-Geldern, kerajaan di Asia Tenggara umumnya disebut dengan nama ibu kotanya,” kata Prof. Nina. Dalam kepercayaan mereka, ibu kota kerajaan diyakini sebagai pusat mikrokosmos. Cukup dengan menyebut nama mikrokosmos, berarti sudah menyebut seluruh wilayah kerajaan. “Itu sebabnya yang beken sekarang itu Pajajaran, padahal yang betul kerajaan Sunda. Itulah kita harus berpegang pada sumber primer,” ujar Prof. Nina. Toleransi Sumber primer diyakini para ahli sebagai bukti otentik yang bisa menjadi referensi suatu sejarah. Hal ini juga bisa menjadi rujukan dari beragam perdebatan yang muncul dari proses interpretasi sejarah. Kerajaan Sunda sendiri tidak lepas dari adanya perdebatan. Salah satunya mengenai kepercayaan Prabu Siliwangi. Prof. Nina menjelaskan, kepercayaan Sri Baduga Maharaja termaktub dalam Prasasti Batu Tulis yang didirikan Prabu Surawisesa, 12 tahun setelah kematian Sri Baduga Maharaja. Dalam prasasti itu, jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja, ayah dari Prabu Surawisesa, meninggal pada 1521. Jenazahnya kemudian diperabukan. “Kenapa diperabukan, karena dia beragama Hindu,” ujar Prof. Nina. Berbekal informasi dari sumber primer, jelas disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja meninggal dalam keadaan beragama Hindu. meskipun ada bukti sekunder yang menerangkan bahwa Prabu Siliwangi beragama Islam. Menjelang akhir usianya, mulai banyak pendatang yang menetap di Tatar Sunda. Para pendatang tidak hanya beragama Hindu, tetapi ada pula yang beragama Buddha dan Islam. Prof. Nina memaparkan, beragamnya kebudayaan dan agama di tatar Sunda membuktikan bahwa kerajaan Sunda memiliki toleransi yang tinggi. Bahkan, penyebaran Islam di tatar Sunda sudah berlangsung sejak abad ke-14.*
59 Pada masa pemerintahan Ratu Jayadewata yang menurut prasasti Batutulis memerintah di ibu kota lama Pakuan Pajajaran, Kerajaan Sunda mulai terancam oleh orang-orang yang tidak setia pada kerajaan. Mereka adalah penduduk pajajaran yang mulai menganut Islam, terutama yang tinggal di pesisir utara. Banten dan Cirebon telah berubah menjadi pelabuhan yang dikuasai oleh orang Islam. Merasa khawatir dengan perkembangan baru di pesisir utara, Ratu Jayadewata mengutus Ratu Samiam ke Malaka untuk meminta bantuan pasukan Portugis memerangi orang-orang Islam. Hal ini ditegaskan dalam berita Portugis bahwa pada tahun 1512 dan 1521 datang utusan dari kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Ratu Samiam. Ratu Samiam dalam berita Portugis ini sama dengan Prabu Surawisesa dalam Carita Parahyangan. Prabu Surawisesa menjadi raja dan memerintah tahun 1521-1535. a. Kehidupan politik Sumber sejarah yang penting dalam sejarah tatar sunda adalah Carita Parahyangan yang merupakan sumber yang berbahasa Sunda Kuno yang ditulis sekitar abad ke-19. Di dalam carita parahyangan ini diceritakan bahwa Sanjaya adalah anak dari Sena yang berkuasa di Galuh. Sanjaya disebutkan pula sebagai menantu raja Sunda yang bernama Tarusbawa, dan bergelar Tohaan di Sunda yang dipertuan di Sunda. Diceritakan pula bahwa pada suatu saat terjadi perebutan kekuasaan oleh Rahyang Purbasora, saudara seibu dari Raja Sena. Kemudian Sena dibuang ke Gunung Merapi oleh keluarganya. Namun setelah dewasa, Sanjaya mencari perlindungan kepada saudara tua ayahnya. Sanjaya kemudian dapat mengalahkan Rahyang Purbasora dan kemudian diangkat menjadi raja Galuh. Kerajaan ini terletak di sebelah barat sungai Citarum. Pada sumber prasasti yang ditemukan di Sukabumi, tercantum nama Sri Jayabuphati yang merupakan salah satu raja Sunda. Jayabhupati adalah Raja Sunda yang beragama Hindu dan pusat kekuasaannya terletak di Pakuan Pajajaran. Penggantinya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana memindahkan kerajaannya ke Kawali Ciamis sekarang dia tinggal di keraton yang bernama Surawisesa. Rahyang Ningrat mengantikan ayahnya yaitu Rahyang Niskala Wastu Kencana yang dilanjutkan kemudian oleh Sri Baduga. Pada masa Sri Baduga terjadi peristiwa besar yaitu perang Bubat yang membuat beliau, putrinya, serta utusan yang ikut serta ke Majapahit tewas. Dengan meninggalnya Sri Baduga, maka pemerintahan dipegang oleh Hyang Bunisora 1357-1371. Bunisora digantikan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana yang memerintah hampir 100 tahun lamanya yaitu dari 1371-1474. Pada masa kerajaan Sunda diperintah oleh Prabu Surawisesa, agama Islam mulai berkembang di Cirebon dan Banten. Hal tersebut membuat Prabu berusaha mencari sekutu untuk memperkuat kedudukannya melawan Islam. Di unduh dari 60 Kemudian dia bersekutu dengan Portugis yang sudah berhasil menguasai Malaka. Tindakan tersebut membuat kerajaan Demak di bawah Sultan Trenggono harus mengambil tindakan untuk menghentikan pengaruh Portugis di Jawa. Oleh karena itu, beliau memerintahkan menantunya yaitu Fatahillah atau dipanggil juga Wong Agung untuk menyerang Portugis di Sunda Kalapa dan menguasai pelabuhan tersebut. Hal itu akan berdampak politik, karena akan semakin membuat Kerajaan Sunda menjadi terisolir dan menghambat atau mungkin menghancurkan kekuatan Portugis yang hendak menguasai Jawa. Sebelum menguasai Sunda Kalapa, pasukan Demak dan Banten mulai menaklukkan daerah-daerah sekitar Banten dan Sunda Kalapa. Pada pertempuran di Sunda Kalapa antara Demak dan Portugis, Pasukan Fatahillah berhasil menghancurkan Portugis. Lalu, Fatahillah mengubah kota Sunda Kalapa menjadi Jayakarta. Pada masa Raja Nuisya Mulya, Kerajaan Sunda jatuh ke tangan tentara Islam, sehingga berakhirlah Kerajaan Sunda, sebuah kerajaan yang besar, sampai Majapahit pun sulit dan tidak bisa untuk menaklukannya. b. Kehidupan ekonomi dan sosial budaya
Kerajaan Sunda berdiri pada tahun 669 Masehi. Kerajaan yang memiliki nama lain Pasundan dan Pakuan Pajajaran ini meliputi wilayah yang saat ini menjadi bagian dari Provinsi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Tengah. Kerajaan Sunda mencapai puncak kejayaan pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi. Keruntuhan kerajaan ini dipicu oleh berbagai hal antara lain karena serangan yang dilancarkan oleh Kesultanan Banten, selain itu setelah mangkatnya Prabu Siliwangi tidak ada pemimpin penerus yang memiliki kemampuan seperti dirinya. Artikel ini mengulas sejarah Kerajaan Sunda dari awal berdiri hingga berbagai prasasti peninggalannya. Sejarah lahirnya Kerajaan Sunda1. Akhir dari Kerajaan Tarumanegara2. Bersatunya Kerajaan Sunda dan Kerajaan GaluhLetak geografis dan wilayah kekuasaanMengenal Kerajaan Sunda lebih dalam1. Kehidupan politik dan militer2. Kehidupan ekonomi3. Kehidupan sosial dan budayaSilsilah rajaMasa kejayaanTragedi BubatRuntuhnya Sang Pakuan PajajaranPeninggalan dan sumber sejarah1. Prasasti Batu Tulis2. Prasasti Huludayeuh3. Prasasti Ulubelu4. Prasasti Cikapundung5. Prasasti Pasir Datar6. Prasasti Kebon Kopi II7. Padrao Sunda Kelapa8. Karangmulyan9. Catatan sejarahMisteri Kerajaan Sunda1. Langkanya peninggalan candi yang ditemukan2. Macan dan Prabu Siliwangi Sejarah lahirnya Kerajaan Sunda Ilustrasi Kerajaan Sunda. Sumber 1. Akhir dari Kerajaan Tarumanegara Kerajaan Tarumanegara dan Kerajaan Sunda memiliki hubungan yang dekat. Menurut Naskah Wangsakerta, Kerajaan Tarumanegara menaklukkan daerah Sunda Pajajaran sekitar Sungai Cipakancilan, Bogor dan menjadikannya sebagai bawahan. Kerajaan Tarumanegara yang berdiri tahun 358 Masehi lebih dulu membesarkan kerajaannya. Tarusbawa, sang pemimpin Sunda menikahi putri sulung raja Tarumanegara, Sri Maharaja Linggawarman Atmahariwangsa Panunggalan Tirthabumi, yang bernama Dewi Manasih. Tarusbawa menjadi menantu raja dan mendapatkan peran dalam pemerintahan Kerajaan Tarumanegara. Raja Linggawarman yang baru saja menduduki tahta raja selama tiga tahun jatuh sakit dan meninggal pada 669 Masehi. Posisi kepala pemerintahan diberikan kepada Tarusbawa dan Tarumanegara digantikan oleh Kerajaan Sunda pada hari Radite Pon, 9 Suklapaksa, bulan Yista, tahun 519 Saka 18 Mei 669 Masehi. Pada saat ini, Kerajaan Galuh yang semulanya berada di bawah Tarumanegara melepaskan diri dan membentuk pemerintahannya sendiri. Tarusbawa yang ingin melanjutkan amanah mertuanya menyetujui hal tersebut dan mulai membagi wilayah kekuasaan. Sungai Citarum menjadi pembagi kedua wilayah. Sebelah barat sungai untuk Sunda dan sebelah timur sungai untuk Galuh. 2. Bersatunya Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh Sebelum pemerintahan Tarusbawa berakhir, cucunya yang bernama Nay Sekarkancana dinikahkan dengan Rahyang Sanjaya dari Galuh. Kondisi Kerajaan Galuh pada tahun 716 Masehi mengalami gejolak. Raja ketiga Galuh, Sena, dikudeta oleh Purbasora yang juga merupakan saudara tirinya. Alhasil Tarusbawa bersama Sanjaya melakukan penyerangan untuk merebut kembali kekuasaan Galuh. Setelah sukses meraih kemenangan, Sanjaya menyatukan Kerajaan Sunda dan Galuh di bawah pimpinannya. Bersatunya Kerajaan Sunda-Galuh tidak bertahan lama. Anak Sanjaya, Rakeyan Panaraban, membagi kedua kerajaan kembali kepada kedua anaknya, Sang Manarah atau yang biasa disebut Ciung Wanara dalam cerita rakyat dan Sang Bang atau dikenal dengan Hariang Banga, untuk menghindari perebutan kekuasaan. Ciung Wanara di Galuh dan Hariang Banga di Sunda. Ratusan tahun berlalu dan kedua kerajaan tetap bertahan melampaui waktu. Konflik demi konflik muncul namun berhasil diselesaikan. Titik puncak Kerajaan Sunda dan Galuh berada pada era kemunduran Kerajaan Majapahit. Sekitar tahun 1400-an Masehi, Prabu Kertabumi atau Brawijaya V, anggota keluarga kerajaan dan segenap rakyatnya mengungsi ke Kawali, ibukota Galuh sekarang sekitar Kuningan, Jawa Barat. Galuh yang waktu itu dipimpin oleh Dewa Niskala dengan senang hati menerima mereka. Bahkan menjodohkan salah satu putrinya dengan kerabat Prabu Kertabumi. Ia juga mempersunting dari salah satu pengungsi. Di sisi lain, Sunda yang kala itu dipimpin oleh Susuktunggal tidak terima dengan pernikahan antara orang Sunda-Galuh dengan Majapahit mengingat perjanjian yang dibuat akibat peristiwa Bubat. Dewa Niskala bersedia menghapuskan aturan dan tradisi sedangkan Susuktunggal teguh menetapkannya. Lantas kedua kerajaan damai tersebut malah berperang. Demi kebaikan kedua pihak, penasihat-penasihat kedua kerajaan menyarankan untuk menunjuk penguasa baru dan kedua raja tahta. Mereka bersedia dengan jalan damai dan menunjuk Jayadewata atau lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi adalah putra Dewa Niskala yang menikahi Ambet Kasih, putri Susuktunggal. Setelah naik menjadi raja, Prabu Siliwangi bergelar Sri Baduga Maharaja. Pada tahun 1482, ia memutuskan untuk menyatukan kembali kedua kerajaan menjadi Kerajaan Sunda-Galuh Pajajaran. Letak geografis dan wilayah kekuasaan Wilayah kekuasaan Sunda pada masa kejayaannya. Sumber Wilayah Sunda sewaktu masih menjadi bawahan Tarumanegara berada di hulu sungai Cipakancilan, sekitar Bogor sekarang. Kemudian setelah mendirikan Kerajaan Sunda, kerajaannya berlokasi di sebelah barat Sungai Citarum yang menjadi batas geografis dengan Kerajaan Galuh. Pusat kerajaannya pada masa awal berada di Parahyangan Sunda atau Priangan sekitar utara dari Bandung. Sedangkan Galuh beribukota di Kawali sekitar Kuningan. Kerajaan Sunda meluaskan wilayahnya ke arah barat dan selatan Jawa Barat mencakup Pangandaran, Ciamis, Tasikmalaya, Sukabumi, dan Bandung. Sedangkan Kerajaan Galuh ke arah timur dan utara yang meliputi Cirebon, Kuningan, Indramayu, dan Sumedang. Ketika mencapai masa emasnya, Kerajaan Sunda berhasil mengepakkan sayapnya hingga ke Banten dan Lampung. Di situlah ia menamakan lautan yang memisahkan kedua pulau dengan nama Selat Sunda. Sejauh ini ia berhasil menaungi hampir setengah dari Pulau Jawa. Pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, setelah menyatukan kembali kedua kerajaan, ibukota dipindahkan dari Kawali ke Pakuan Pajajaran sekarang Bogor. Pakuan sendiri memiliki arti kota dalam Bahasa Sunda kuno. Letak geografis Kerajaan Sunda yang berpusat di daerah lereng gunung membuatnya maju di bidang perkebunan dan pertanian. Dialiri banyak sungai sehingga akses transportasi juga menggunakan kapal. Di sisi militer, menguntungkan kerajaan karena bisa menggunakan gunung sebagai kekuatan alami untuk menahan musuh yang datang dari bawah atau dataran rendah. Mengenal Kerajaan Sunda lebih dalam Setelah berkilas balik tentang berdirinya kerajaan di tanah Sunda, mari kita mengintip bagaimana kehidupan dalam berbagai aspek di Kerajaan Sunda. 1. Kehidupan politik dan militer Pemerintahan era lampau tidak lepas dari kata kerajaan. Sebuah kerajaan umumnya dipimpin oleh seorang raja dan menerapkan sistem patriarki yang kuat, sistem di mana laki-laki adalah pemegang kekuasaan dan memiliki peran politik utama. Kerajaan Sunda dipimpin oleh raja-rajanya. Apabila raja memiliki keturunan laki-laki maka otomatis dinaikkan menjadi penerus selanjutnya. Jika tidak memiliki anak laki-laki, biasanya akan diberikan kepada kerabat atau suami dari anak perempuannya. Raja-raja tidak hanya berdiri sendiri. Ia membutuhkan bantuan dari dewan penasihat, panglima perang, dan prajuritnya untuk bersama-sama menjalankan pemerintahan. Mereka tidak setara, raja masih di atas mereka semua, namun saran dan perkataannya berpengaruh bagi raja. Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Kerajaan Sunda memiliki undang-undang tentang pemungutan upeti untuk menghindari penyelewengan dalam proses berjalannya dari para petugas. Di bidang militer, Kerajaan Pakuan Pajajaran ini terkenal dengan reputasinya untuk menahan serangan dengan baik. Dibuktikan dengan kegagalan Kerajaan Majapahit untuk menguasai bumi Sunda. Hal ini dikarenakan setelah terjadinya peristiwa Bubat, para pemimpin setelahnya menggencarkan kekuatan militer dengan menambah pasukan dari golongan pemuda dan cakap membuat strategi perang. 2. Kehidupan ekonomi Rakyat Sunda mayoritas hidup sebagai petani, peternak, pekebun, dan pedagang. Mengingat kondisi geografis wilayah Sunda yang banyak bermukim di lereng gunung, hasil pertaniannya meliputi teh, lada, beras, asam Jawa, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Untuk bidang ternak, banyak yang memelihara sapi, babi, kambing, dan biri-biri. Selain di sektor agribisnis, beberapa rakyat juga memiliki pekerjaan sebagai pelukis, pande mas pengrajin emas, pande dang pembuat alat-alat rumah tangga, dan nelayan. Perdagangan biasanya dilakukan di pasar dan pelabuhan di sungai-sungai. Selama masa hidupnya Sunda, terdapat enam pelabuhan utama yaitu Banten, Cigede, Tomgara, Pontang, Sunda Kalapa, dan Cimanuk sekarang Pamanukan. Masing-masing pelabuhan dikepalai oleh Syahbandar yang diutus oleh raja untuk mengatur jalannya perdagangan dan akses transportasi. 3. Kehidupan sosial dan budaya Kehidupan bersosial dalam Kerajaan Sunda tidak lepas dari penggolongan sosial. Mereka terbagi menjadi empat kelompok, yakni kelompok rohani atau agama, cendikiawan, aparat kerajaan, dan ekonomi. Kelompok rohani meliputi brahmana, pratanda, dan janggan yang mengetahui tentang ritual pemujaan, berbagai macam mantra, dan kehidupan keagamaan. Kelompok cendikiwan adalah mereka yang memiliki kemampuan intelektual seperti memen yang tahu banyak cerita, paraguna yang tahu banyak lagu dan nyanyian, serta prepatun yang tahu banyak pantun. Aparat kerajaan adalah mereka yang bertugas di pemerintahan, misalnya prajurit, hulu jurit semacam panglima perang, dan bhayangkara semacam polisi. Terakhir, mereka yang hidup di sektor ekonomi seperti petani, peternak, pedagang, nelayan, dan lain-lain. Dari segi kebudayaan, kerajaan satu ini melahirkan budaya Sunda yang sampai sekarang ada mulai dari bahasa, aksara, tari-tarian, dan musiknya. Kebudayaan ini awalnya merupakan percampuran dari budaya Hindu dengan budaya leluhur. Agama Hindu menjadi agama yang dianuti dan dipraktikkan dalam berkehidupan di kerajaan. Sunda juga gemar untuk meninggalkan prasasti sebagai bukti atas suatu peristiwa atau cerita. Silsilah raja Menurut Naskah Pangeran Wangsakerta, inilah raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Sunda dari tahun ke tahun. Tarusbawa menantu Linggawarman, 669-723 Sanjaya atau Harisdarma menantu Tarusbawa, 723-732 Tamperan Barmawijaya 732-739 Rakeyan Banga atau Hariang Banga 739-766 Rakeyan Medang Prabu Hulukujang 766-783 Prabu Gilingwesi menantu Rakeyan Medang Prabu Hulukujang, 783- -795 Pucukbumi Darmeswara menantu Prabu Gilingwesi, 795-819 Rakeyan Wuwus Prabu Gajah Kulon 819-891 Prabu Darmaraksa adik ipar Rakeyan Wuwus, 891-895 Windusakti Prabu Déwageng 895-913 Rakeyan Kamuning Gading Prabu Pucukwesi 913-916 Rakeyan Jayagiri menantu Rakeyan Kamuning Gading, 916-942 Atmayadarma Hariwangsa 942-954 Limbur Kancana putra Rakeyan Kamuning Gading, 954-964 Munding Ganawirya 964-973 Rakeyan Wulung Gadung 973-989 Brajawisésa 989-1012 Déwa Sanghyang 1012-1019 Sanghyang Ageng 1019-1030 Sri Jayabupati atau Detya Maharaja 1030-1042 Darmaraja atau Sang Mokténg Winduraja 1042-1065 Langlangbumi atau Sang Mokténg Kerta 1065-1155 Rakeyan Jayagiri Prabu Ménakluhur 1155-1157 Darmakusuma atau Sang Mokténg Winduraja 1157-1175 Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu 1175-1297 Ragasuci atau Sang Mokténg Taman 1297-1303 Citraganda atau Sang Mokténg Tanjung 1303-1311 Prabu Linggadéwata 1311-1333 Prabu Ajiguna Linggawisésa 1333-1340 Prabu Ragamulya Luhurprabawa 1340-1350 Prabu Maharaja Linggabuanawisésa 1350-1357 Prabu Bunisora 1357-1371 Prabu Niskala Wastukancana 1371-1475 Prabu Susuktunggal 1475-1482 Jayadéwata atau Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja menantu Prabu Susuktunggal, 1482-1521 Prabu Surawisésa 1521-1535 Prabu Déwatabuanawisésa 1535-1543 Prabu Sakti 1543-1551 Prabu Nilakéndra 1551-1567 Prabu Ragamulya atau Prabu Suryakancana 1567-1579 Masa kejayaan Dari seluruh raja yang telah disebutkan sebelumya, masa emas Kerajaan Sunda terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Ceritanya yang lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi masih dibangga-banggakan sampai sekarang. Pertama, ia membuktikan dalam bentuk fisik. Karena baru saja menyatukan Sunda dan Galuh dengan ibukota Pakuan Pajajaran, tata kota dan wilayah kerajaan harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kehidupan kerajaan dan rakyatnya. Jayadewata membangun jalan dari Pakuan Pajajaran sampai ke Wanagiri sekarang Wonogiri, membuat telaga besar yang dinamakan Maharena Wijaya untuk sumber air baru, membuat pamingtonan semacam tempat hiburan dan pagelaran, serta membuat kabinihajian atau kaputren semacam tempat tinggal untuk para putri dan prajurit. Tak lupa juga ia membangun sarana dan prasarana keagamaan dan spiritual untuk mendorong masyarakat melakukan kegiatan keagamaan bersama-sama. Benteng-benteng yang sudah ada juga diperkokoh lagi olehnya. Dari segi hukum ia menetapkan undang-undang untuk mengatur kehidupan kerajaan dan masyarakat, terutama untuk urusan pemungutan upeti. Sektor ekonomi juga maju karena memaksimalkan kekuatan perdagangan jalur air dengan pelabuhannya. Wilayah juga berhasil diperluas hingga ke Lampung di Pulau Sumatera. Kedaulatan kerajaan masih dipertahankan meskipun adanya ancaman dari Kerajaan Majapahit. Tragedi Bubat Ilustrasi Perang Bubat dari Peristiwa Bubat, peristiwa besar yang memutuskan hubungan diplomatik dengan Kerajaan Majapahit. Ini terjadi pada masa pemerintahan Prabu Maharaja Linggabuana. Kala itu, Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit jatuh hati pada lukisan putri Linggabuana, Dyah Pitaloka Citraresmi. Ia ingin mempersunting Dyah Pitaloka sekaligus mempererat hubungan kedua kerajaan dengan ikatan pernikahannya. Nyatanya, Raden Wijaya sang pendiri Majapahit adalah keturunan Sunda karena ayahnya adalah Rakeyan Jayadarma, raja Sunda. Dengan niat kebaikan tersebut Hayam Wuruk mengirimkan undangan ke Sunda. Sesampainya surat lamaran tersebut, dewan penasihat keberatan dengan permintaannya karena pada masa itu, tidak lazim bagi perempuan untuk mendatangi pihak laki-laki. Mereka juga menduga bahwa ini adalah jebakan untuk bisa menaklukkan Sunda. Tetapi, Linggabuana memutuskan untuk berangkat ke Majapahit atas dasar ikatan persaudaraan leluhur. Rombongan Sunda berangkat membawa sang raja, permaisuri, putri Dyah Pitaloka, beberapa kerabat kerajaan, dan prajurit secukupnya. Setibanya di Majapahit, rombongan Sunda ditempatkan di Pesanggrahan Bubat Jawa Timur. Di sinilah tragedi tragis akan terjadi. Mahapatih Majapahit, Gajah Mada yang menjunjung tinggi Sumpah Palapa untuk menyatukan nusantara di bawah kuasa Majapahit, melihat ini sebagai bentuk tunduknya Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada bahkan menekan Hayam Wuruk untuk mengubah niatnya dari mengeratkan ikatan diplomatis menjadi pengakuan superioritas Majapahit. Berita ini sampai ke telinga Linggabuana dan tidak terima atas perlakuan Gajah Mada. Namun, tanpa seizin Hayam Wuruk, Gajah Mada melakukan penyerangan dengan pasukan yang berjumlah besar. Tak mundur dari perang, Linggabuana maju ke medan tempur walaupun pasukannya sangat kalah jumlah. Alhasil, hampir semua rombongan Sunda tewas di Lapangan Bubat termasuk sang raja. Mereka yang masih hidup hanya terdiri dari perempuan. Dyah Pitaloka tak sanggup menerima kenyataan dan memutuskan untuk mencabut nyawanya sendiri. Perempuan lain juga mengikuti aksi Dyah Pitaloka. Setelah perang Bubat, hubungan Majapahit dan Sunda rusak. Pemerintahan dilanjutkan oleh Prabu Niskala Wastu Kancana, putra Linggabuana dan adik Dyah Pitaloka. Kemudian diberlakukan hukum larangan estri ti luaran, yang berarti larangan untuk menikah dengan orang di luar Sunda. Dan sampai sekarang masih ada yang menerapkan peraturan tersebut di keluarganya orang Sunda dilarang untuk menikah dengan orang Jawa. Runtuhnya Sang Pakuan Pajajaran Kita sudah sampai di penghujung cerita Kerajaan Sunda. Layaknya hidup pasti akan sirna dan mati. Kerajaan Sunda Pajajaran setelah pemerintahan Prabu Siliwangi tidak mendapatkan pemimpin yang secakap dirinya. Ditambah lagi serangan Kesultanan Banten yang menggempur Pakuan Pajajaran. Pasukan Islam Banten mengambil singgasana raja yang disebut Palangka Sriman Sriwicana dan membawanya ke hadapan Maulana Yusuf. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa tidak ada raja lagi yang bisa dinobatkan untuk Kerajaan Pajajaran. Ialah yang akan menjadi penguasa untuk wilayah-wilayah Sunda karena dirinya juga adalah canggah keturunan keempat dari Sri Baduga Maharaja. Dan di sinilah akhir dari sejarah Kerajaan Sunda sekitar tahun 1579. Sisa-sisa anggota kerabat kerajaan menetap di Lebak dan hidup dengan mandala yang ketat. Kelanjutan dari anggota istana ini adalah terlahirnya Suku Baduy. Peninggalan dan sumber sejarah Bukti-bukti sejarah yang sudah ditemukan sekarang tentang Kerajaan Sunda tidak begitu banyak. Peninggalannya meliputi prasasti, situs sejarah, dan catatan atau naskah sejarah. Di antaranya sebagai berikut. 1. Prasasti Batu Tulis Prasasti Batu Tulis. Sumber Prasasti yang ditemukan di Batu Tulis, Bogor, adalah salah satu peninggalan sejarah Kerajaan Sunda yang ditulis pada batu terasit, batu yang umum ditemukan di Sungai Cisadane. Ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Sanskerta. Pembuatnya tak lain adalah Prabu Surawisesa, putra Prabu Siliwangi. Ia menuliskan jasa-jasa ayahnya serta penyesalannya karena tidak bisa mempertahankan Sunda dari serangan Kesultanan Banten dan Cirebon. 2. Prasasti Huludayeuh Prasasti Huludayeuh. Sumber Prasasti ini ditemukan di Huludayeuh, Cirebon dan ditulis dalam Bahasa Sunda kuno. Sayangnya, prasasti ini ditemukan dalam keadaan tidak utuh. Setelah lama dicari dan terkumpul, tulisan-tulisannya juga sudah tidak dapat diterjemahkan. Garis besar isi prasasti ini adalah usaha Sri Maharaja Ratu Haji memakmurkan kerajaan di Pakuan Pajajaran. 3. Prasasti Ulubelu Prasasti Ulubelu. Sumber Bukti bahwa wilayah kekuasaan Sunda telah mencapai Lampung ada pada prasasti ini karena ditemukan di Ulubelu, Tanggamus, Lampung. Dikatakan peninggalan Sunda karena ditulis dengan aksara Sunda kuno. Isi prasastinya adalah doa permintaan tolong kepada dewa-dewa Hindu, seperti Siwa, Brahma, dan Wisnu. Mereka berdoa kepada dewa untuk menjaga keselamatan dan keamanan kerajaan dari musuh. 4. Prasasti Cikapundung Prasasti Cikapundung. Sumber Ditemukan di Cikapundung, Ujungberung, prasasti ini tidak hanya dituliskan dengan aksara Sunda Kuno, tetapi juga memuat gambar wajah, telapak tangan, dan telapak kaki. Isi dari Prasasti Cikapundung adalah pernyataan bahwa setiap manusia di muka bumi dapat mengalami kejadian apapun baik itu suka maupun duka, terbukti dalam kalimat unggal jagat jalmah hendap semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu yang terdapat di prasasti. 5. Prasasti Pasir Datar Prasasti Pasir Datar. Sumber Lucunya, prasasti ini ditemukan di kebun kopi di Pasir Datar, Sukabumi. Terbuat dari batu alam dan merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Sunda yang misterius karena sampai sekarang belum ada terjemahan dari prasasti ini. 6. Prasasti Kebon Kopi II Prasasti Kebon Kopi II. Sumber Ketika menebang hutan untuk lahan kebun kopi, prasasti ini dengan tidak sengaja ditemukan. Terletak di Pasir Muara, Bogor, dan berdekatan dengan Prasasti Kebon Kopi I. Ini menjadi peninggalan Sunda karena berisi tentang Rakeyan Jayagiri yang menduduki tahta sebagai raja Sunda. Prasasti ini diukir sekitar tahun 932 Masehi. Sedangkan Prasasti Kebon Kopi I menjadi peninggalan Tarumanegara karena terdapat telapak kaki gajah tunggangan Purnawarman yang merupakan raja Tarumanegara. 7. Padrao Sunda Kelapa Padrao Sunda Kelapa. Sumber Kerajaan Sunda juga menjadi saksi kedatangan Bangsa Eropa ke nusantara, khususnya Pulau Jawa. Sebuah perjanjian dibuat antara Portugis dengan Sunda yang ditandai dengan padrao tugu batu. Enrique Leme dari Portugis dan Prabu Surawisesa dari Sunda yang menjadi saksi perjanjian tersebut. Isi dari padrao adalah izin untuk membangun benteng dan gudang perdagangan bagi Portugis. Tempat membangunnya adalah tempat padrao ini dibuat, yakni di Kali Besar Timur I, Jakarta Barat. 8. Karangmulyan Situs Karangmulyan. Sumber Kawasan ini dijadikan cagar budaya oleh pemerintah sekarang. Terletak di Cijeungjing, Ciamis, situs sejarah ini merupakan peninggalan Kerajaan Galuh sewaktu dipimpin oleh Ciung Wanara yang juga keturunan Sunda. Kehidupan pernah berlangsung di sini sejak abad sembilan dibuktikan dengan penemuan keramik Dinasti Ming. 9. Catatan sejarah Cerita sejarah Kerajaan Sunda-Galuh Pajajaran dapat dilacak dari catatan sejarah yang dibuat oleh orang-orang pada masa kerajaan dan sumber-sumber asing. Di antaranya adalah Naskah Carita Parahyangan, Pararaton, Bujangga Manik, Sanghyang Siksakanda Ng Karesian, Sajarah Banten, Wangsakerta, Kitab Kidung Sundayana, serta berita asing dari Tome Pires tahun 1513 dan Pigafetta tahun 1522. Sayangnya pengarang naskah-naskah yang dibuat oleh rakyat Sunda tidak diketahui sampai sekarang. Misteri Kerajaan Sunda 1. Langkanya peninggalan candi yang ditemukan Meski banyak bukti yang ditemukan tentang kehidupan dan keberadaan Kerajaan Sunda, masih ada hal yang mengganjal tentang kerajaan satu ini. Sejauh ini, sangat jarang ditemukan candi-candi peninggalan Kerajaan Sunda. Padahal, kehidupan keagamaannya dapat dikatakan taat dan kental dengan ajaran Hindu. Kemungkinan besar hal ini diakibatkan oleh kebiasaan masyarakat yang sering berpindah tempat atau nomaden. Ketika ladang sudah tidak maksimal lagi untuk bertani, maka mereka akan pindah mencari tempat baru sehingga bangunan permanen kadang tidak banyak berdiri seperti keraton. 2. Macan dan Prabu Siliwangi Ilustrasi Prabu Siliwangi dan macan. Sumber Raja yang membawa Sunda mencapai kejayaannya ini juga turut memberikan misteri. Macan atau dalam Bahasa Sunda maung sering dikaitkan dengan sang prabu karena cerita legenda menghilangnya Prabu Siliwangi di hutan Sancang ketika dikejar musuh dari Banten dan Cirebon. Ia meninggalkan wangsit untuk Kerajaan Pakuan Pajajaran tersebut. Ia berkata, “lamun aing geus euweuh marengan sira, tuh deuleu tingkah polah maung” jika aku sudah tidak menemanimu, lihatlah tingkah laku macan atau harimau. Perkataan tersebut semakin dipercaya bahwa Jayadewata memiliki kekuatan untuk menghilang dan menjelma menjadi macan oleh masyarakat. Untungnya, setelah dilakukan penelitian, kata-kata tersebut mengartikan bahwa jika sang prabu sudah tiada maka lihatlah sifat dan karakteristik macan untuk memimpin Sunda. Macan dideskripsikan sebagai binatang yang tegas, berani, tetapi juga sayang dengan keluarganya. Yang menjadi ganjal adalah, kita tidak pernah tahu apakah Prabu Siliwangi benar-benar menghilang dan menjadi macan lalu kembali setelah berhari-hari menghilang. Sekian cerita tentang kerajaan yang bertahan beratus tahun di tanah Sunda ini. Jangan lupa untuk sebarkan tuliskan ini jika bermanfaat. Terima kasih banyak.
Jawa Barat merupakan salah satu wilayah atau daerah di Indonesia yang memiliki sejarah panjang kerajaan nusantara. Salah satu kerajaan yang paling dikenal berdiri di wilayah ini adalah Kerajaan Pajajaran. Berikut beberapa fakta sejarah tentang Kerajaan Pajajaran beserta penjelasannya. Sejarah Kerajaan PajajaranLokasi, Letak, dan Peta WilayahSilsilah Raja1. Sri Baduga Maharaja 1482-15212. Surawisesa 1521-15353. Ratu Dewata 1535-16434. Ratu Sakti 1543-15515. Ratu Nilakendra 1551-15676. Raga Mulya 1567-1579Kehidupan Kerajaan Pajajaran1. Kehidupan politik2. Kehidupan ekonomi3. Kehidupan sosial4. Kehidupan budayaMasa Kejayaan1. Infrastruktur2. Militer3. Keagamaan4. PemerintahanPenyebab KeruntuhanSumber Sejarah1. Prasasti Cikapundung2. Prasasti Huludayeuh3. Prasasti Pasir Datar4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis5. Prasasti Ulubelu6. Prasasti Kebon Kopi II7. Prasasti Batu Tulis8. Prasasti Astana GedePeninggalan1. Komplek Makan Keramat2. Sumur Jalatunda3. Situs Karangkamulyan Sumber Keberadaan Kerajaan Pajajaran bermula dari dua kerajaan, yaitu Kerajaan Sunda yang dimpimpin oleh Raja Susuktunggal dan Kerajaan Galuh yang dipimpin oleh Raja Dewa Niskala. Kedua kerajaan tersebut terikat oleh sebuah ikatan pernikahan yang terjalin antara putra raja Dewa Niskala dan putri dari Raja Susuktunggal. Pada masa yang sama Kerajaan Majapahit yang dipimpin oleh Prabu Kertabumi Brawijaya V sedang mengalami masa keruntuhan. Tidak hanya pemberontakan, mereka juga menghadapi perebutan kekuasaan yang terjadi di internal kerajaan Majapahit. Situasi tersebut akhirnya memaksa penduduk Majapahit mengungsi ke Kerajaan Galuh. Termasuk keluarga salah satu kerabat Raja Brawijaya IV, Raden Baribin. Setelah mereka sampai di Kerajaan Galuh, rombongan pengungsi termasuk keluarga Raden Baribin disambut dengan hangat oleh Raja Dewa Niskala. Tidak disangka, Raja Dewa Niskala memutuskan menikah dengan salah seorang keluarga dari rombongan pengungsi. Bahkan, ia juga menikahkan salah satu putrinya dengan Raden Baribin. Namun, pernikahan ini mendapat pertentangan dari Raja Susuktunggal. Ia menganggap bahwa Kerajaan Galuh sudah melanggar aturan yang sudah disepakati sejak Peristiwa Bubat, yaitu larangan bagi orang-orang dari Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda untuk menikah dengan keturunan Kerajaan Majapahit. Pada akhirnya, pernikahan ini pun menimbulkan perselisihan antara dua kerajaan tersebut. Sebelum peperangan antar kedua kerajaan meletus, dewan penasihat dari kedua kerajaan melakukan perundingan. Perundingan tersebut menghasilkan keputusan bahwa kedua raja yang berselisih harus mundur dari tahtanya dan memilih seorang pengganti untuk memimpin Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda. Kedua raya yang berselisih tersebut memlih Jayadewata untuk mempersatukan dan memimpin kedua kerajaan. Setelah Jayadewata terpilih menjadi raja, ia memperoleh gelar Sri Baduga Maharaja, yang kemudian ia lebih dikenal dengan nama Prabu Siliwangi. Kedua kerajaan tersebut pun akhirnya bersatu dan resmi berganti nama menjadi Kerajaan Pakuan Pajajaran pada tahun 1482. Lokasi, Letak, dan Peta Wilayah Sumber Kata “pakuan” sendiri memiliki arti “kota”. Sehingga, apabila diterjemahkan, Kerajaan Pakuan Pajajaran dapat diartikan menjadi Kerajaan Kota Pajajaran. Penamaan ini tidak lepas dari lokasi kerajaan yang terletak di Pajajaran yang kini dikenal sebagai Kota Bogor. Menurut Tom Peres dalam tulisannya yang berjudul The Suma Oriental, Jawa Barat merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Kerajaan Sunda-Galuh ini juga memiliki beberapa batas geografis. Di sisi Barat berbatasan dengan Selat Sunda, bagian Utara berbatasan dengan Laut Utara Jawa Barat, sisi Timur berbatasan dengan Sungai Cipamali Pamali, dan bagian Selatan berbatasan dengan Samudera Hindia. Silsilah Raja Semenjak bersatu pada sekitar abad ke-15, Kerajaan Pajajaran telah dipimpin oleh beberapa Raja. Berikut daftar dan penjelasan singkat raja-raja yang sudah pernah memerintah di Kerajaan Pakuan Pajajaran. 1. Sri Baduga Maharaja 1482-1521 Sumber Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi merupakan anak dari Raja Dewa Niskala. Nama Siliwangi sendiri berasal dari dua suku kata, yaitu “silih” dan “wangi” yang bermakna pengganti Prabu Wangi. Ia merupakan pemimpin pertama setelah kerajaan Galuh dan Sunda bersatu. Seperti yang tertulis dalam parasasti Batutulis, ia dinobatkan sebagai raja sebanyak dua kali. Pertama, yaitu ketika ia menerima tahta dari ayahnya, Dewa Niskala, dan memperoleh gelar Prabu Guru Dewataprana. Kedua, yaitu ketika ia menerima tahta dari kerajaan Galuh, yang kemudian menjadikan ia sebagai pendiri Kerajaan Pajajaran, yang merupakan gabungan dari Kerajaan Galuh dan Sunda. Di bawah pemerintahannya, kerajaan tidak memperbolehkan memungut bea atau pajak pada penduduk Jayagiri dan Sunda Sumbawa. Secara spesifik, terdapat empat macam pajak yang dibebaskan, yaitu berupa pajak tenaga perorangan dasa, pajak tenaga kolektif calagra, pajak kapas 10 pikul kapas timbang, dan pajak padi satu gotongan pare dondang. Selain itu, Prabu Siliwangi juga terkenal dengan mitos tentang bagaimana ia mampu mengalahkan siluman hari putih yang kemudian menjadi pengikutnya. 2. Surawisesa 1521-1535 Ia merupakan raja kedua Kerajaan Pajajaran setelah Prabu Siliwangi turun tahta. Ia menduduki tahta kerajaan setelah Raden Walangsungsang sebagai putra mahkota memutuskan untuk keluar dari kerajaan dan mendirikan Kerajaan Cirebon. Sebagai seorang Raja Pajajaran, ia ingin memajukan dan mensejahterakan seluruh rakyatnya. Selama memimpin, Surawisesa tercatat telah menghadapi sebanyak 15 pertempuran. Sehingga, ia dianggap sebagai pemimpin yang perkasa dan pemberani. Sayangnya, banyaknya perang yang dihadapi oleh Surawisesa tidak lepas dari wataknya yang selalu menggunakan kekerasan untuk menyelesaikan segala permasalahan. Bahkan semenjak ia bertahta, Kerajaan Pajajaran sering berperang dengan Kerajaan Cirebon. Walaupun pada tahun 1531 kedua kerajaan tersebut sudah bersepakat untuk berdamai dan saling mengakui wilayah satu sama lain. Meskipun demikian, banyak masyarakat Kerajaan Pajajaran yang merasa kecewa dengan kepemimpinan Surawisesa dan memaksanya untuk turun tahta. Sudah merasa tidak dibutuhkan lagi, ia kemudian memutuskan untuk turun tahta dan pergi dari Kerajaan Pajajaran. 3. Ratu Dewata 1535-1643 Berbeda dengan ayahnya yang dikenal sebagai panglima perang dan pemberani, Ratu Dewata dikenal sebagai pemimpin yang alim atau taat dalam beragama. Beberapa ritual keagamaan seperti sunat dan tapa pwah susu, sebuah kegiatan praktik dimana hanya seseorang hanya boleh mengkonsumsi susu dan buah-buahan, sering dipraktekkan di bawah kepemimpinannya. Di bawah kepemimpinannya, Kerajaan Pajajaran diserang secara tiba-tiba oleh pasukan Hasanuddin dari Banten. Sayangnya, karena ia kurang peka dengan kondisi politik pemerintahan yang membuat ia tidak siaga dengan potensi bahaya, Kerajaan Pajajaran hampir tidak selamat. Beruntung, Ratu Dewata masih didampingi oleh perwira yang pernah mendampingi ayahnya berperang serta keberadaan benteng kokoh yang dibangun oleh Prabu Siliwangi. Sehingga serangan yang dipimpin oleh Hasanuddin gagal, meski harus ada dua senopati Pajajaran yang harus gugur. 4. Ratu Sakti 1543-1551 Ratu Sakti atau Kaliyuga merupakan raja keempat Kerajaan Pajajaran yang juga sekaligus raja dengan masa kepemimpinan yang paling singkat. Apabila dibandingkan dengan Ratu Dewata yang sangat alim, Ratu Sakti memiliki sifat yang gemar berfoya-foya bermabuk-mabukan, gemar menghina orang tua bahkan para pemuka agama. Di masa kepemimpinannya Kerajaan Pajajaran mengalami masa-masa yang suram karena kepemimpinan yang buruk dari Kaliyuga yang sangat kurang memperhatikan rakyatnya. Dengan kondisi ekonomi yang buruk, masyarakat di wilayah pedalaman Kerajaan Pajajaran banya yang terpaksa melakukan tindakan maksiat dan membuat situasi kerajaan tidak terkendali. Selain itu, Ratu Sakti juga mengedepankan kekerasan dan represi untuk menyelesaikan permasalahan, termasuk dalam menghukum masyarakatnya yang melakukan kesalahan. Harta benda masyarakat pun banyak yang disita oleh kerajaan dan sistem perpajakan yang berlaku pun sangat tidak menguntungkan rakyat kecil. 5. Ratu Nilakendra 1551-1567 Ratu Nilakendra atau Tohan Di Majaya memerintah selama 16 tahun. Namun, meski sudah berganti pemimpin, kondisi Kerajaan Pajajaran justru jauh lebih buruk. Setelah dilanda kelaparan yang cukup parah saat masa kepemimpinan Kaliyuga, masyarakat Kerajaan Pajajaran juga kembali tidak diperhatikan karena Ratu Nilakendra fokus memperdalam ajaran aliran Tantra. Daripada memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, ia justru semakin jauh dalam mempercayai aliran Tantra, seperti banyak membangun bangunan kramat dan menarih jimat di sekitar istananya. Bahkan, Ratu Nilakendra lebih memilih untuk membuat bendera keramat daripada melakukan peremajaan terhadap sistem persenjataan untuk meningkatkan pertahanan kerajaan. Alhasil, saat Kerajaan Pajajaran berperang dengan Kerajaan Banten, mereka selalu mengalami kekalahan dan ibu kota kerajaan berhasil direbut. Setelah secara “de jure” Kerajaan Pajajaran runtuh, Ratu Kendra pun memutuskan melarikan diri dan ia wafat pada tahun 1567 dalam pelariannya. 6. Raga Mulya 1567-1579 Raga Mulya atau Prabu Suryakencana adalah raja terakhir Pajajaran yang memerintah selama 12 tahun. Ia naik tahta ketika Kerajaan Pajajaran sudah tidak berada di Pakuan. Hal ini terjadi karena kerajaan telah berpindah dari daerah pakuan Bogor dipindah ke daerah Pandai Gelang Suryakencana. Lebih tepatnya yaitu di wilayah Kaduhejo, Kecamatan Menes, lereng Gunung Pulasari, Pandeglang. Di bawah kekuasaanya, Raga Mulya membuka pemukiman penduduk baru di daerah Cisolok dan Bayah. Ia pun juga menyerahkan beberapa pusaka milik Kerajaan Pajajaran kepada Prabu Geusan Ulum yang memerintah Kerajaan Sumedanglarang melalui empat panglimanya. Namun, keempat panglima itu berkhianat dan justru bergabung dengan Prabu Geusan Ulum. Pada akhirnya, Kerajaan Pajajaran pun benar-benar runtuh di masa kepemimpinan Raga Mulya setelah Panembahan Yusuf dari Kesultanan Banten melakukan aksi penyerangan. Kehidupan Kerajaan Pajajaran Terdapat empat aspek kehidupan yang dapat dilihat dari masyarakat Kerajaan Pajajaran, yaitu 1. Kehidupan politik Masih sedikit sumber sejarah yang bisa menjelaskan secara detail atau lengkap mengenai gambaran kehidupan politik Kerajaan Pajajaran. Sejauh ini, kehidupan politik yang bisa digambarkan adanya perpindahan pusat pemerintahan dan pergantian tahta raja. Secara urut, pusta kerajaan yang dimaksud adalah Kerajaan Galuh, Prahajyan Sunda, Kawali, serta Pakwan Pajajaran. 2. Kehidupan ekonomi Secara umum, masyarakat Kerajaan Pajajaran sangat menggantungkan hasil pertanian dan kebun. Beberapa hasil bumi yang biasa mereka hasilkan yaitu beras, sayuran, buah-buahan, serta lada. Selain menjadi petani, masyarakat setempat juga memiliki mata pencaharian sebagai nelayan dan menjadi pedagang. Hal ini diperkuat dengan keberadaan enam pelabuhan penting yang mengelilingi kerajaan, yaitu Pontang, Cigede, Tamgara, Banten, Sunda Kelapa, dan Cimanuk. 3. Kehidupan sosial Masyarakat Pajajaran dapat terbagi menjadi beberapa golongan. Diantaranya adalah golongan seniman penari, pemusik, badut, golongan pedagang, golongan petani, serta golongan jahat perampok, pencuri, pembunuh. 4. Kehidupan budaya Budaya masyarakat Kerajaan Pajajaran, baik yang sehari-hari maupun ritual, sangat dipengaruhi oleh agama Hindu. Sehingga Kerajaan Pajajaran bisa disebut dengan kerajaan bercorak Hindu. Beberapa peninggalannya adalah kerajinan batik, beberapa prasasti, Kitab Cerita Parahyangan, dan Kitab Sangyang Siksakanda. Masa Kejayaan Sumber Meskipun sudah berganti pemimpin sebanyak enam kali, Kerajaan Pajajaran justru memperoleh puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh raja pertama mereka, Prabu Siliwangi. Berikut penjelasan lengkapnya 1. Infrastruktur Di bidang infrastruktur, Prabu Siliwangi telah berhasil membangun Telaga Maharena Wijaya. Telaga ini sangat bermanfaat bagi masyarakat Pajajaran, khususnya mereka yang bermata pencaharian sebagai petani. Selain itu, ia juga membangun jalan menuju Pakuan dan Wanagiri. 2. Militer Di bidang militer, Prabu Siliwangi berhasil membentuk angkatan perang yang kuat. Ia juga membangun asrama dengan fasilitas yang sangat lengkap, pagelaran, kaputren, serta memperkuat benteng pertahanan. 3. Keagamaan Dalam keagamaan, Prabu Siliwangi mewujudkan kepeduliannya dengan mendirikan desa khusus untuk para pemuka agama. Tujuannya yaitu agar kehidupan beragama di Kerajaan Pajajaran dapat terus berjalan dan lebih terjamin. 4. Pemerintahan Di bidang pemerintahan, Kerajaan Pajajaran sudah mampu membuat peraturan atau undang-undang untuk mengatur kehidupan masyarakat. Di samping itu, Prabu Siliwangi juga mengatur sistem pajak atau mengatur upeti yang akan diserahkan ke kerajaan. Penyebab Keruntuhan Penyebab runtuhnya Kerajaan Pajajaran diakibatkan oleh serangan dari Maulana Yusuf yang berasal dari Kesultanan Banten pada tahun 1570. Keruntuhan Pajajaran ditandai dengan diboyongnya Palangka Sriman Sriwacana singgasana raja dari Pakuan Pajajaran ke Keraton Surosowan oleh Maulana Yusuf. Tindakan ini ditujukan sebagai tradisi politk agar tidak ada lagi yang diangkat menjadi raja di Pakuan Pajajaran. Sumber Sejarah Terdapat peninggalan Kerajaan Pajajaran yang ditemukan dalam bentuk prasasti. Selain sebagai sumber sejarah, prasasti ini juga menunjukkan kemajuan kerajaan Pajajaran. Berikut beberapa contoh prasastinya 1. Prasasti Cikapundung Sumber Prasasti ini ditemukan pada tanggal tahun 1884 di kawasan perkebunan kina di Cikapundung-Ujungberung. Di permukaan prasasti ini ditemukan gambar telapak tangan, telapak kaki, serta wajah. Ditemukan pula sebuah tulisan yang apabila diartikan berbunyi semua manusia di dunia dapat mengalami kejadian apapun. 2. Prasasti Huludayeuh Sumber Prasasti Huludayeuh ditemukan di kawasan persawahan Desa Cikahalang, Kecamatan Dukupuntang, Cirebon. Saat ditemukan oleh peneliti dan arkeolog pada tahun 1991, kondisi prasasti ini sudah tidak utuh lagi dan terdapat bagian yang sudah rusak. Sehingga, ada beberapa tulisan di permukaannya yang hilang dan menjadikannya tidak terbaca. Namun secara garis besar, isi prasasti ini bercerita tentang usaha Sri Maharaja Ratu Haji untuk membuat rakyat kerajaan sejahtera. 3. Prasasti Pasir Datar Prasasti yang kini disimpan di Museum Nasional Jakarta ini ditemukan di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi tahun 1872. Sayangnya prasasti ini masih belum berhasil ditranskripsikan, sehingga belum diketahui pesannya. 4. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis Sumber Prasasti berbentuk tugu ini menjadi bagian dari simbol atau lambang perjanjian antara Kerajaan Portugis dengan Kerajaan Sunda. Sumber sejarah yang ditemukan di Jakarta pada tahun 1918 ini dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis di Malaka yang membawa logistik atau barang untuk diserahkan kepada Surawisesa. 5. Prasasti Ulubelu Sumber Prasasti ini ditemukan pada tahun 1936 di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Lampung, Sumatera Selatan. Prasasti yang diyakini ditulis menggunakan aksara Sunda kuno ini berisi mantra untuk meminta pertolongan kepada Dewa Wisnu, Siwa, Brahma, serta dewa penguasa tanah, air, dan pohon agar terus diberikan keselamatan. 6. Prasasti Kebon Kopi II Sumber Prasasti ini merupakan peninggalan Kerajaan Sunda Galuh dan ditemukan pada abad ke-19 di Kampung Pasir Muara, Desa Ciaruteun Ilir, Bogor, Jawa Barat. Prasasti yang diyakini dibuat pada 932 Masehi ini bercerita tentang prestasi yang telah diperoleh seorang raja yang memerintah Kerajaan Pajajaran. 7. Prasasti Batu Tulis Sumber Pembacaan isi prasasti ini dilakukan pertama kali oleh Friederich pada tahun 1853. Namun prasasti ini baru bisa dibaca beberapa tahun kemudian oleh seorang peneliti bernama Cornelis Marinus Pleyte. Prasasti tersebut berisikan penjelasan mengenai kampung Batu Tulis yang di masa Kerajaan Pajajaran berkuasa dijadikan sebagai tempat Puri. Di samping itu, sumber sejarah ini juga berisikan tentang pembagian wilayah Pajajaran dan pemindahan pusat pemerintahan dari Pakuan ke Pandeglang. 8. Prasasti Astana Gede Sumber Prasasti ini merupakan peninggalan dari masa Kerajaan Galuh pada abad ke-14 Masehi dan merujuk kepada beberapa prasasti yang ditemukan di wilayah Kabuyutan Kawali, Ciamis, Jawa Barat. Diyakini bahwa keberadaan prasasti ini adalah sebagai simbol kejayaan Prabu Niskala Watu Kancana. Peninggalan Berikut penjelasan singkat beberapa peninggalan Kerajaan Pajajaran selain prasasti yang masih bisa ditemui 1. Komplek Makan Keramat Sumber Makam ini adalah tempat dimana istri kedua Prabu Siliwangi, Ratu Galuh Mangkualam dikebumikan. Lokasi komplek makan ini tepatnya di Kebun Raya Bogor, Desa Peledang, Bogor, Jawa Barat. Di komplek yang sama juga dapat ditemukan tempat pemakaman panglima perang sekaligus pendiri Desa Peledang, Mbah Jepra, serta gubernur Prabu Siliwangi, Mbah Baul. 2. Sumur Jalatunda Sumber Sumur ini terletak di Gang Jambekuina dan merupakan mata air dangkal yang konon tidak pernah kering meskipun di musim kemarau sekalipun. Pada saat banyak masyarakat yang memegang kepercayaan Sunda Wiwitan, situs ini sering digunakan sebagai tempat semedi banyak orang. Selain itu, air dari sumur ini sering digunakan untuk ritual kasepuhan karena masih dipercaya sebagai salah satu dari tujuh mata air suci yang ada di Kampung Budaya Sindang Barang. 3. Situs Karangkamulyan Sumber Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang bercorak Hindu-Buddha ini terletak di daerah Cijeungjing, Ciamis, Jawa Barat. Di samping dongeng kesaktian dan kehebatan, situs ini pun menceritakan tentang hubungan Ciung Wanara dengan Kerajaan Galuh sebagai seorang pemimpin yang adil dan bijaksana.
kehidupan politik kerajaan sunda